Renungan Waisak 2554 BE/2010

Dewan Pimpinan
SANGHA AGUNG INDONESIA
Alamat Surat: Jl.Mangga II No. 8 Jakarta 11510 Telp. +6221-5640271, 5687921 Fax. +6221-5687923


RENUNGAN WAISAK 2554/2010
SANGHA AGUNG INDONESIA

Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa
Namo Sarve Bodhisattwaya Mahasattwaya

Purnamasiddhi di bulan Waisak telah tiba, seluruh umat Buddha mengenang dan merenungkan
kembali makna spiritual dan semangat yang dikandung dalam tiga peristiwa agung: pertama Kelahiran
Pangeran Siddhartha Gautama di Lumbini, di sebuah taman yang indah. Beliau adalah Bodhisattva yang
turun ke dunia dari surga Tusita untuk menjadi Buddha. Kedua tercapainya Penerangan Sempurna, Petapa
Gautama berhasil merealisasikan Nirwana dan menjadi Samyaksambuddha di Bodhgaya, di bawah pohon
Bodhi. Ketiga parinirwana Buddha Gautama di Kusinara, di antara dua pohon Sala kembar.
Peristiwa agung yang terjadi pada bulan waisak merupakan sebuah rangkain kehidupan yang
penuh dengan totalitas dedikasi dan karya besar bagi kemanusiaan, peradaban, dan alam semesta.
Realisasi spiritualitas keterbangunan nurani Sidharta bukanlah suatu capaian yang berangkat dari
ketakutan atau penolakan sepihak terhadap penderitaan pribadi ataupun yang bersifat kebetulan karena
sudah dipilih dan ditakdirkan, melainkan berangkat dari observasi langsung terhadap realitas kehidupan
diiringi kepedulian terhadap derita semua agregat kehidupan, kemudian diperjuangkan dengan sepenuh
hati tanpa kenal lelah.
Memaknai Waisak adalah memaknai Buddha, sebuah kapasitas mental untuk bangkit, mengasihi,
peduli dalam memahami dan menghadapi realitas kehidupan, agar menjadi tercerahkan. Kapasitas mental
tersebut kita miliki sebagai manusia, baik dalam bentuk benih-benih kecil maupun sudah menjadi tunas-
tunas muda yang siap bangkit, tumbuh berkembang menjadi pohon-pohon pencerahan yang
menyejukkan. Latihan yang dapat dilakukan untuk membangkitkannya adalah dengan menyiraminya
dengan kesadaran, mengetahuinya sebagai sebuah realita bukan gagasan, bukan pendapat, bukan mitos,
melainkan kenyataan yang dapat diraih secara terus-menerus tanpa dibatasi oleh waktu, ruang, dan
keadaan.
Karakter bijak dan penuh kepedulian terhadap derita makhluk lain merupakan denyut nadi
spiritualitas yang sesungguhnya. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dua karakter ini
merupakan modal dasar untuk membentuk   masyarakat, bangsa dan negara yang maju, harmonis,
bermartabat. Kurangnya kepedulain terhadap sesama adalah awal dari tindakan mementingkan diri
sendiri, memakmurkan diri sendiri, menyenangkan diri sendiri dengan cara apapun yang pada titik
ekstremnya terdemonstrasikan dalam tindakan mencuri, korupsi, menggunakan wewenang secara salah
sehingga menyuburkan sikap saling curiga, sikap saling tidak percaya, akhirnya terakumulasi menjadi
krisis kepercayaan baik secara personal dan lebih parah pada dimensi institusional sebagai benih-benih
keretakan.
Jika latihan spiritual kita semakin dalam, menekankan pada kebijaksanaan dan belas kasih, kita
akan berkali-kali berjumpa dengan penderitaan makhluk hidup lain, dan kita akan memiliki kemampuan
untuk mengenalinya, menanggapinya, dan merasakan belas kasih mendalam, alih-alih perasaan apatis
atau tak berdaya. Ketika merenungkan pendiritaan, janganlah jatuh dalam depresi. Ketika merenungkan
kebahagiaan,  janganlah jatuh dalam kesombongan atau  merasa  bahwa kita  begitu  penting.

1





Mengembangkan kebijaksanaan akan membantu kita untuk menghindari kejenuhan ini. Tetapi ini sulit
untuk di generalisir karena keberanian dan ketangguhan masing-masing orang adalah berbeda. Inilah
karakteristik yang membuat kita mampu mengenali dan merespon penderitaan orang lain.
Hidup berkesadaran adalah untuk dilakukan sepanjang hari, dalam segala aktivitas. Dengan
senantiasa memelihara kesadaran untuk berdiam pada kekinian, maka kita akan memiliki perlindungan
yang paling aman dan pasti. Dalam Samyutta Nikaya I : 208, tercatat Buddha Gotama menyatakan bahwa,
“Bagi seseorang yang sadar, selalu ada kebaikan; bagi seorang yang sadar, kebahagiaan bertambah; bagi
seorang yang sadar, segala hal membaik; walaupun ia belum terbebas dari para musuh. Namun, ia yang
baik siang maupun malam mendapatkan kegembiraan dalam ketenteraman, membagi cinta kasih dengan
semua yang hidup, ia tidak menemukan permusuhan dengan siapa pun.”
Seiring dengan momentum wiasak ini, saya mengajak segenap umat Buddha untuk membantu
memberikan kontribusi positif bagi upaya bersama membangkitkan kemajuan bangsa dan negara melalui
internalisasi nilai-nilai spiritualitas dasar ke-buddha-an yakni kepedulian (karuna) dan kejernihan atau
kebijaksanaan (prajna) dalam bingkai ke-Indonesiaan. Umat Buddha yang ada seyogyanya dapat menjadi
bagian dari solusi, bukan justru menambah persoalan bangsa. Pekerjaan besar tersebut tidak lain
merupakan wujud dari rasa kebangsaan atau nasionalisme, karena nasionalisme yang sesungguhnya juga
mengandung sikap sadar berpijak pada realitas kekinian dalam konteks ruang dan waktu (sati sampajana)
dan ditindaklanjuti dengan sikap  kepedulian (karuna), sebuah sikap kontribusi.
Marilah kita internalisasikan pesan-pesan waisak yang lebih bermakna dalam kehidupan sehari-
hari secara nyata agar terbentuk proses pembangunan karakter berbasis manusia, menjadi manusia utuh
dan paripurna agar mampu memberikan kontribusi nyata untuk bangsa dan negara dalam bidang kita
masing-masing. Selamat Hari Waisak 2554 BE, semoga semua makhluk hidup berbahagia.


Mettacittena,

SANGHA AGUNG INDONESIA










Mahathera  Nyanasuryanadi
Ketua Umum













2